BRK Semrowo

Loading

Tantangan dan Hambatan dalam Menjalankan Kebijakan Anti-Terorisme di Indonesia

Tantangan dan Hambatan dalam Menjalankan Kebijakan Anti-Terorisme di Indonesia


Tantangan dan hambatan dalam menjalankan kebijakan anti-terorisme di Indonesia memang tidaklah mudah. Sebagai negara dengan sejarah panjang dalam konflik terorisme, Indonesia terus berjuang untuk memerangi ancaman terorisme yang ada.

Salah satu tantangan utama dalam kebijakan anti-terorisme di Indonesia adalah radikalisasi. Menurut Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud MD, radikalisasi merupakan akar dari masalah terorisme. “Radikalisasi adalah tantangan utama dalam upaya pemberantasan terorisme di Indonesia. Kita harus mampu mencegah radikalisasi agar tidak berkembang menjadi tindakan terorisme,” ujarnya.

Hambatan lainnya adalah koordinasi antar lembaga terkait. Menurut Direktur Eksekutif The Habibie Center, Bawono Kumoro, koordinasi yang kurang efektif antar lembaga terkait seringkali menghambat upaya pemberantasan terorisme. “Koordinasi yang kurang sinergis antar lembaga terkait seperti kepolisian, TNI, Densus 88, dan BNPT dapat menjadi hambatan dalam menjalankan kebijakan anti-terorisme di Indonesia,” ungkapnya.

Namun demikian, upaya pemberantasan terorisme terus dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar, pemerintah terus berupaya untuk mengatasi tantangan dan hambatan yang ada. “Kami terus melakukan koordinasi lintas sektoral dan meningkatkan kerjasama internasional dalam upaya pemberantasan terorisme di Indonesia,” ujarnya.

Dalam menghadapi tantangan dan hambatan dalam menjalankan kebijakan anti-terorisme, diperlukan kerjasama dan partisipasi semua pihak. Seperti yang dikatakan oleh Presiden Joko Widodo, “Pemberantasan terorisme bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Dengan kerjasama yang baik, kita dapat mengatasi tantangan dan hambatan dalam menjalankan kebijakan anti-terorisme di Indonesia.”